Saudara-saudara kita yang mengalami
masalah kesehatan jiwa berhak mendapatkan hak mereka sebagai manusia. Mereka
berhak untuk dihargai dan tetap mengembangkan karya yang mereka miliki. Apabila
mereka mendapatkan perawatan dan perlakuan baik dari keluarga, tenaga kesehatan
dan masyarakat setempat, maka mereka akan dapat menjalankan kegiatan
sehari-hari dan berpenghasilan (produktif) seperti anggota masyarakat lain.
Berawal
dari keinginan saat masih duduk dibangku kuliah STIKES NU Tuban, untuk
memperdalam ilmu keperawatan jiwa yang menurut saya keperawatan jiwa adalah
sesuatu yang unik dan lebih mudah saya pelajari karena basic Pesantren yang
saya miliki. Menurut saya antara ilmu agama dan ilmu keperawatan jiwa saling
berhubungan, sehingga saya tertarik mempelajarinya.
Selain
itu dalam ilmu keperawatan jiwa bukan hanya mengajarkan saya tentang teori,
akan tetapi juga mengajarkan saya tentang arti syukur berupa nikmat sehat
jasmani dan rohani, bahwa diluar sana banyak sekali saudara kita yang diberi
cobaan oleh Allah dengan sakit jiwanya, dan kebanyakan diantara mereka pasti
diacuhkan oleh masyarakat sekitar bahkan oleh keluarganya sendiri.
Inspirasi
dari Bapak Soebagijono, S.Kep.,Ns.,M.M.Kes. sang Inisiator Perawat Puskesmas
Bantur Kabupaten Malang tentang Program “PERKES Wa Mas” nya, membuat saya ingin
mengembangkan DSSJ dan Posyandu Jiwa Di Kabupaten Tuban. Yang saya fikirkan “di
Bantur bisa, di Tuban juga pasti bisa”. Hal tersebut saya awali dengan
penelitian pada Tesis yang berjudul “Pengaruh Pelatihan Keswa Car Ri (Kesehatan
Jiwa Caring dan Spirituality) terhadap Komitmen dan Peran Kader Kesehatan Jiwa”
yang bertempat di Desa Patihan Kec. Widang Kab. Tuban, dengan sasaran seluruh
kader kesehatan yang ada di Desa Patihan. Dalam hal ini sasarannya adalah kader,
karena kader adalah tenaga kesehatan yang paling dekat dengan masyarakat. Seluruh
kader kesehatan terlibat karena lingkup kesehatan jiwa bukan hanya pada ODGJ
(Orang dengan Gangguan Jiwa) saja, akan tetapi mencakup semua kelompok usia
mulai usia 0 bulan sampai lansia. Cakupan dalam kesehatan jiwa yaitu kelompok
keluarga sehat, kelompok keluarga risiko, kelompok keluarga gangguan dan ODGJ
sendiri. oleh karena itu perlu melibatkan semua kader kesehatan mulai kader
balita, kader remaja, kader lansia, kader Posbindu, kader jiwa, dll.
Alasan
pemilihan tempat tersebut karena Kecamatan Widang termasuk salah satu wilayah
yang ada di Kabupaten dengan temuan ODGJ yang cukup banyak, yaitu sebanyak 83
ODGJ. Penelitian terfokus pada 1 Desa terlebih dahulu yaitu Desa Patihan,
dikarenakan temuan Pasung berada disana dan Programmer Jiwa Puskesmas Widang
Bapak Mulyo, S.Kep.,Ns. Bertempat di Pustu Patihan.
Dalam
penelitian tersebut, saya mengangkat caring
dan spirituality sebagai bahan untuk
menumbuhkan komitmen kader kesehatan sebagai kader kesehatan jiwa. Menjadi
seorang kader kesehatan jiwa dibutuhkan adanya komitmen tinggi, karena tugas
kader kesehatan jiwa bukan hanya pada kelompok keluarga sehat akan tetapi juga
pada kelompok ODGJ.
Harapan
dari penelitian tersebut, nantinya kader kesehatan dapat menjalankan perannya
sebagai kader kesehatan jiwa. Selain itu, Desa Patihan dapat menjadi salah satu
Desa Binaan STIKES NU Tuban, serta sebagai lahan praktik mahasiswa STIKES NU Tuban
khususnya dalam bidang CMHN (Community
Mental Health Nursing)/ Keperawatan Kesehatan Jiwa Berbasis Komunitas untuk
mengembangkan Posyandu Jiwa, yang akan diteruskan di Desa-Desa lain di
Kec.Widang Kab. Tuban, sehingga nantinya diharapkan tujuan DSSJ yang telah di
programkan pemerintah untuk meningkatkan kesehatan jiwa di masyarakat akan
terwujud.

Pelatihan Keswa Car Ri
Pelatihan Keswa Car Ri
merupakan suatu pelatihan yang diberikan kepada seluruh kader kesehatan, baik
itu kader kesehatan jiwa atau kader kesehatan lain yang ada di Desa dengan
tujuan untuk meningkatkan pengetahuan kader tentang peran apa saja yang harus
dijalankan sebagai kader kesehatan jiwa. Pelatihan Keswacarri disini tidak
hanya sekedar memberikan pelatihan kepada kader kesehatan tentang peran kader
kesehatan jiwa saja, akan tetapi didalamnya juga mengandung unsur caring dan spirituality yang diperuntukkan untuk membangun komitmen kader
kesehatan jiwa.
Peran yang dijalankan
kader kesehatan jiwa harus menunjukkan rasa empati kepada keluarga/masyarakat.
Kader hadir bukan hanya secara fisik saja tapi juga hadir secara emosional,
menolong orang lain dengan tulus, membangun kepercayaan dengan
keluarga/masyarakat, menumbuhkan rasa cinta kasih antar sesama, selain itu
unsur spirituality juga harus
ditumbuhkan pada diri kader kesehatan jiwa dengan selalu bersyukur atas nikmat
yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada kita serta yakin bahwa menjadi
bagian dari kader kesehatan jiwa berarti telah mewariskan sesuatu yang bernilai
tinggi bagi kehidupan yang diwujudkan dengan sikap mengasihi orang lain, baik,
ramah, menghormati dan menghargai keluarga/masyarakat untuk membuat perasaan
senang pada keluarga/masyarakat.
Pelatihan Keswacarri
untuk kader kesehatan jiwa ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan
pengetahuan kader dalam aspek kognitif saja, akan tetapi juga bertujuan untuk
meningkatkan aspek afektif dan psikomotor kader kesehatan jiwa, sehingga
diharapkan setelah diberikan pelatihan Keswacarri ini tidak hanya aspek
kognitif kader kesehatan jiwa saja yang
bertambah tapi juga aspek afektif dan psikomotor.
Output yang dihasilkan
Dengan
dilakukannya pelatihan Keswa Car Ri, keluaran yang dihasilkan adalah:
1. Kader
kesehatan memahami tentang peran yang harus dilakukan sebagai kader kesehatan
jiwa
2. Kader
kesehatan yang semula canggung berdekatan dengan ODGJ menjadi tidak canggung.
3. Kader
kesehatan mencoba menjalankan perannya sebagai kader kesehatan jiwa
Tindak lanjut
1. Perlu
dilakukannya evaluasi tentang keberlangsungan penelitian yang telah dilakukan
2. Mengaktifkan
posyandu jiwa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar