Rabu, 16 Januari 2019

“Pelatihan ‘Keswa Car Ri’ untuk Kader Kesehatan Jiwa”



Saudara-saudara kita yang mengalami masalah kesehatan jiwa berhak mendapatkan hak mereka sebagai manusia. Mereka berhak untuk dihargai dan tetap mengembangkan karya yang mereka miliki. Apabila mereka mendapatkan perawatan dan perlakuan baik dari keluarga, tenaga kesehatan dan masyarakat setempat, maka mereka akan dapat menjalankan kegiatan sehari-hari dan berpenghasilan (produktif) seperti anggota masyarakat lain.
Berawal dari keinginan saat masih duduk dibangku kuliah STIKES NU Tuban, untuk memperdalam ilmu keperawatan jiwa yang menurut saya keperawatan jiwa adalah sesuatu yang unik dan lebih mudah saya pelajari karena basic Pesantren yang saya miliki. Menurut saya antara ilmu agama dan ilmu keperawatan jiwa saling berhubungan, sehingga saya tertarik mempelajarinya.
Selain itu dalam ilmu keperawatan jiwa bukan hanya mengajarkan saya tentang teori, akan tetapi juga mengajarkan saya tentang arti syukur berupa nikmat sehat jasmani dan rohani, bahwa diluar sana banyak sekali saudara kita yang diberi cobaan oleh Allah dengan sakit jiwanya, dan kebanyakan diantara mereka pasti diacuhkan oleh masyarakat sekitar bahkan oleh keluarganya sendiri.
Inspirasi dari Bapak Soebagijono, S.Kep.,Ns.,M.M.Kes. sang Inisiator Perawat Puskesmas Bantur Kabupaten Malang tentang Program “PERKES Wa Mas” nya, membuat saya ingin mengembangkan DSSJ dan Posyandu Jiwa Di Kabupaten Tuban. Yang saya fikirkan “di Bantur bisa, di Tuban juga pasti bisa”. Hal tersebut saya awali dengan penelitian pada Tesis yang berjudul “Pengaruh Pelatihan Keswa Car Ri (Kesehatan Jiwa Caring dan Spirituality) terhadap Komitmen dan Peran Kader Kesehatan Jiwa” yang bertempat di Desa Patihan Kec. Widang Kab. Tuban, dengan sasaran seluruh kader kesehatan yang ada di Desa Patihan. Dalam hal ini sasarannya adalah kader, karena kader adalah tenaga kesehatan yang paling dekat dengan masyarakat. Seluruh kader kesehatan terlibat karena lingkup kesehatan jiwa bukan hanya pada ODGJ (Orang dengan Gangguan Jiwa) saja, akan tetapi mencakup semua kelompok usia mulai usia 0 bulan sampai lansia. Cakupan dalam kesehatan jiwa yaitu kelompok keluarga sehat, kelompok keluarga risiko, kelompok keluarga gangguan dan ODGJ sendiri. oleh karena itu perlu melibatkan semua kader kesehatan mulai kader balita, kader remaja, kader lansia, kader Posbindu, kader jiwa, dll.
Alasan pemilihan tempat tersebut karena Kecamatan Widang termasuk salah satu wilayah yang ada di Kabupaten dengan temuan ODGJ yang cukup banyak, yaitu sebanyak 83 ODGJ. Penelitian terfokus pada 1 Desa terlebih dahulu yaitu Desa Patihan, dikarenakan temuan Pasung berada disana dan Programmer Jiwa Puskesmas Widang Bapak Mulyo, S.Kep.,Ns. Bertempat di Pustu Patihan.
Dalam penelitian tersebut, saya mengangkat caring dan spirituality sebagai bahan untuk menumbuhkan komitmen kader kesehatan sebagai kader kesehatan jiwa. Menjadi seorang kader kesehatan jiwa dibutuhkan adanya komitmen tinggi, karena tugas kader kesehatan jiwa bukan hanya pada kelompok keluarga sehat akan tetapi juga pada kelompok ODGJ.
Harapan dari penelitian tersebut, nantinya kader kesehatan dapat menjalankan perannya sebagai kader kesehatan jiwa. Selain itu, Desa Patihan dapat menjadi salah satu Desa Binaan STIKES NU Tuban, serta sebagai lahan praktik mahasiswa STIKES NU Tuban khususnya dalam bidang CMHN (Community Mental Health Nursing)/ Keperawatan Kesehatan Jiwa Berbasis Komunitas untuk mengembangkan Posyandu Jiwa, yang akan diteruskan di Desa-Desa lain di Kec.Widang Kab. Tuban, sehingga nantinya diharapkan tujuan DSSJ yang telah di programkan pemerintah untuk meningkatkan kesehatan jiwa di masyarakat akan terwujud.
 
Pelatihan Keswa Car Ri
Pelatihan Keswa Car Ri merupakan suatu pelatihan yang diberikan kepada seluruh kader kesehatan, baik itu kader kesehatan jiwa atau kader kesehatan lain yang ada di Desa dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan kader tentang peran apa saja yang harus dijalankan sebagai kader kesehatan jiwa. Pelatihan Keswacarri disini tidak hanya sekedar memberikan pelatihan kepada kader kesehatan tentang peran kader kesehatan jiwa saja, akan tetapi didalamnya juga mengandung unsur caring dan spirituality yang diperuntukkan untuk membangun komitmen kader kesehatan jiwa.
Peran yang dijalankan kader kesehatan jiwa harus menunjukkan rasa empati kepada keluarga/masyarakat. Kader hadir bukan hanya secara fisik saja tapi juga hadir secara emosional, menolong orang lain dengan tulus, membangun kepercayaan dengan keluarga/masyarakat, menumbuhkan rasa cinta kasih antar sesama, selain itu unsur spirituality juga harus ditumbuhkan pada diri kader kesehatan jiwa dengan selalu bersyukur atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT kepada kita serta yakin bahwa menjadi bagian dari kader kesehatan jiwa berarti telah mewariskan sesuatu yang bernilai tinggi bagi kehidupan yang diwujudkan dengan sikap mengasihi orang lain, baik, ramah, menghormati dan menghargai keluarga/masyarakat untuk membuat perasaan senang pada keluarga/masyarakat.
Pelatihan Keswacarri untuk kader kesehatan jiwa ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan kader dalam aspek kognitif saja, akan tetapi juga bertujuan untuk meningkatkan aspek afektif dan psikomotor kader kesehatan jiwa, sehingga diharapkan setelah diberikan pelatihan Keswacarri ini tidak hanya aspek kognitif  kader kesehatan jiwa saja yang bertambah tapi juga aspek afektif dan psikomotor.

Output yang dihasilkan
Dengan dilakukannya pelatihan Keswa Car Ri, keluaran yang dihasilkan adalah:
1.      Kader kesehatan memahami tentang peran yang harus dilakukan sebagai kader kesehatan jiwa
2.      Kader kesehatan yang semula canggung berdekatan dengan ODGJ menjadi tidak canggung.
3.      Kader kesehatan mencoba menjalankan perannya sebagai kader kesehatan jiwa
Tindak lanjut
1.      Perlu dilakukannya evaluasi tentang keberlangsungan penelitian yang telah dilakukan
2.      Mengaktifkan posyandu jiwa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar